Menyesuaikan Penggunaan TIK dengan Kebutuhan Warga Belajar.
Nada Assyafiah (19005128)
Pendidikan Luar Sekolah
Universitas Negeri Padang
Pemanfaat TIK untuk pembelajaran di wilayah terdepan, tertinggal, dan terpencil (3T) di Indonesia baru dimulai. Padahal sekolah di daerah 3T sangat memerlukan berbagai hal untuk menunjang kualitas pembelajaran salah satunya TIK. Di Indonesia, telah ada beberapa inisiatif pengembangan TIK untuk daerah 3T, antara lain warung informasi dan teknologi (Warintek),Community Acces Point (CAP), Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK).
Prinsip-prinsip Perancangan TIK untuk Daerah 3T
Belajar dari pengalaman berbagai Negara dalam memanfaatkan TIK untuk daerah terpencil, berikut ini ada beberapa rekomendasi UNESCO yang patut diperhatikan;
1) TIK hendaklah menjadi bagian dari kebijakan rencana pembangunan nasional,
2) kembangkan kerjasama pemerintah dan swasta untuk layanan di pedesaaan,
3) bangun kapasitas bukan hanya infrastrukturnya tetapi juga SDM,
4) program TIK perlu didukung riset teknologi tepat guna, 5) kembangkan layanan dan konten lokal (UNESCO, 2008)
Dalam hal pengembangan sistem, studi ASTD (American Society for Training Development) dapat menjadi bahan pertimbangan. Hasil studi ASTD antara lain menyebutkan beberapa faktor berpengaruh secara signifikan terhadap keberhasilan sebuah sistem, mencakup; pengetahuan dan kompetensi karyawan internal; perbedaan budaya, gender, dan kesenjangan generasi; perbedaan persepsi tentang sistem; dan dukungan jangka pendek (ASTD, 2010).
Studi ini juga memberikan beberapa saran, antara lain;
1) tingkatkan kemampuan dan keterampilan staff,
2) segera komunikasikan segala masalah yang timbul,
3) buat program menjadi sederhana, tidak rumit.
4) pastikan staf lokal memiliki kompetensi yang memadai
5) lakukan riset untuk perbaikan. Setelah melakukan analisis terhadap kebijakan, kondisi nyata daerah 3T, potensi TIK untuk pendidikan, dan pengalaman-pengalaman negara lain serta rekomendasinya, maka pendayagunaan TIK untuk daerah 3T hendaklah dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip;
1) empowering (pemberdayaan),
2) button up (tumbuh dari bawah),
3) sustainability(keberlangsungan),
4) pendekatan pembelajaran modern, dan
5) partnership (kemitraan).
Dari lima prinsip tersebut, secara lebih jelasnya sebagai berikut:
Empowering (pemberdayaan)
Pemanfaatan TIK untuk wilayah 3T harus dalam rangka memberdayakan potensi daerah setempat. Potensi daerah dalam hal ini sekolah yaitu guru, siswa, kepala sekolah, serta stakeholder pendidikan lainnya. Dengan memberdayakan guru, siswa, dan Kepala Sekolah, maka mereka akan merasa meimiliki dan terlibat untuk menemukan jalan yang terbaik dan tercepat untuk memperbaiki mutu pembelajaran. Dengan bantuan TIK yang diberikan oleh Kemdikbud hanyalah berupa “kail” dan bukan “ikan”. Kemdikbud memberikan pelatihan dan pendampingan agar program ini bisa berjalan, namun semuanya hanyalah sebagai pembuka kunci, petunjuk, dan pendorong sehingga mereka dapat mengembangkan dirinya sendiri. Setelah mendapatkan bantuan dan pelatihan, hendaklah komponen sekolah terus merawat dan mengembangkan agar pemanfaatannya dapat terus berlangsung tanpa harus menunggu bantuan atau bimbingan lagi. Dengan pemberdayaann yang hasilnya dapat dirasakan oleh masyarakat sekitar, hal ini akan membuka mata bagi masyarakat sekitar dan juga yang lain (pemerintah daerah, lmbag swasta) untuk melakukan yang serupa di tempat lain. Dengan demikian sekolah-sekolah di daerah 3T akan dapat meningkatkan mutu pembelajarannya dan tentu saja diharapkan dapat memotivasi masyarakat untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggit serta memiliki semangat belajar sepanjang hayat.
Buttom up (tumbuh dari bawah)
Prinsip kedua adalah tumbuh dari bawah. Setiap program baik dari pemerintah pusat ataupun daerah, hendaknya program tersebut sesuai dengan kebutuhan daerah tersebut. Program yang tidak sesuai kebutuhan akan cenderung “mubasir”. Hal ini sering terjadi di manapun, sebab kadang suatu daerah mendapatkan bantuan yang tidak dibutuhkan, yang akhirnya diprogram tersebut bukan saja kurang bermanfaat, bahkan kadang menjadi beban daerah. Untuk itu sudah saatnya, apapun yang program yang akan diberikan kepada daerah termasuk 3T, harus berdasarkan sebuah kajian, apa yang menjadi kebutuhan daerah tersebut. Apabila bantuan tersebut sesuai kebutuhan daerah, maka walaupun program ini inisiatifnya dimulai dari pusat, namun untuk implementasi program sepenuhnya memerlukan kemauan dan kreativitas dari sekolah sebagai pengguna. Program ini diharapkan menjadi “milik” sekolah, dan bukan “milik pemerintah” yang seringkali dijalankan sekedar memenuhi kewajiban.Oleh karena itu, peran kepala sekolah, guru, siswa, serta tokoh pendidikan setempat menjadi sangat penting. Keterlibatan mereka dalam menjaga, merawat, dan merasa memiliki sangat menentukan keberhasilan program tersebut.
Sustainability (keberlangsungan)
Prinsip ketiga adalah keberlangsungan. Keberlangsungan suatu program sangat ditentukan oleh berbagai hal. Salah satu yang cukup berperan penting yaitu rasa memiliki dan keterlibatan pihakpihak yang terkena dampak ataupun yang berkepentingan dengan program tersebut. Tidak dipungkiri bahwa banyak program inisiatif yang bagus yang terhenti di tengah jalan.Oleh karena itu, dengan prinsip pertama dan kedua (pemberdayaan dan tumbuh dari bawah) sebagaimana disebutkan di atas, diharapkan program ini dapat berlangsung dengan atau tanpa intervensi pemerintah pusat. Dengan pelatihan dan pendampingan sementara dapat menjadi wahana transisi pengelolaan program. Dengan pelatihan diharapkan semua pihak yang akan memanfaatkan TIK untuk pembelajaran akan merasa bahwa program tersebut membantu memecahkan permasalahan pembelajaran yang selama ini dirasakan, bahkan diharapkan juga mempermudah dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
Pendekatan pembelajaran modern
Prinsip keempat, penerapan strategi pembelajaran modern. Semua orang mengetahui bahwa kehadiran TIK dalam kehidupannya dapat mempermudah dan mempercepat proses pekerjaan yang dilakukan. Demikian juga kehadiran TIK dalam pembelajaran, diharapkan TIK dapat mempermudah guru dalam tranfer pengetahuan dan mempermudah siswa dalam belajar. Bahkan beberapa hasil penelian menunjukkan bahwa kehadiran TIK di sekolah dapat mendorong motivasi siswa untuk belajar dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Untuk itu Kemdikbud harus memberikan TIK kepada seluruh sekolah tidak terkecuali sekolah di daerah 3T, sebagai prinsip penting yang perlu diperkenalkan pendayagunaan TIK sejak dini. Hal ini perlu untuk menghindari penggunaan TIK sekedar menggantikan papan tulis. Survey online yang dilakukan pada portal Rumah Belajar pada bulan November 2012, dari lebih dari 6000 responden, sebanyak 62% mengakui bahwa penggunaan TIK saat ini masih terbatas hanya sebagai media presentasi. Aktivitas pembelajaran masih berorientasi kepada guru dengan sebagian waktu dihabiskan untuk ceramah (70%). Strategi pembelajaran siswa aktif (active learning) dan pembelajaran berorientasi kepada siswa (student center) sebagai ciri pendekatan pembelajaran modern masih belum diterapkan pada kegiatan pembelajaran di kelas. Ini artinya pemanfaatan TIK bagaikan kehadiran teknologi modern di kelas kuno. Pembelajaran modern atau sering juga disebut sebagai pembelajaran abad 21 meniliki 6 dimensi, yaitu; kolaborasi, pembangunan pengetahuan, mandiri, pemecahan masalah nyata, pemanfaatan TIK untuk belajar, dan pengembangan keterampilan berkomunikasi (Shear, 2013).
Partnership (kemitraan).
Prinsip kelima, kemitraan baik antara sekolah dengan para tokoh masyarakat setempat, swasta, pemerintah daerah, serta dengan lembaga swadaya masyarakat. Perlu disadari bahwa tidak ada suatu program yang dapat berjalan sendiri yang dilakukan oleh suatu lembaga. Perlu melibatkan berbagai pihak agar keberhasilannya dapat lebih cepat dan efisien. Apalagi saat ini di era desentralisasi, di mana setiap daerah tingkat dua berhak mengatur demi kemajuan daerahnya. Meskipun dalam kenyataan banyak daerah yang belum berhasil membangun secara merata. Untuk itu bantuan Tik untuk daerah 3T agar terus bergulir dan berkembang dengan dukungan dari berbagai elemen masyarakat secara luas. Namun demikian, kemitraan perlu dirancang secara baik sehingga semua pihak yang terlibat dapat memberikan konstribusinya semaksimal mungkin. Dari uraian di atas, tampak jelas bahwa pemanfaatan TIK untuk pendidikan di daerah 3T memerlukan metode khusus sesuai dengan karakter daerahnya. Model pemanfaatannya tidak dapat disamaratakan antara daerah satu dengan lainnya. Hal ini terjadi karena permasalahan setiap daerah tidak sama.
REFERENSI
Kemdiknas, Rencana Strategis Pendidikan Nasional 2010 – 2014, 2010
Kemdiknas, Blue Print TIK untuk Pendidikan, 2010
Kemdikbud, Grand Desain Pusat Sumber Belajar untuk Daerah Terpencil, Tertinggal, dan Terdepan, Pustekkom, 2012
Kemdikbud, Laporan Hasil Monitoring dan Evaluasi Pusat Sumber Belajar untuk Daerah Terpencil, Tertinggal, dan Terdepan, Pustekkom, 2012
Kusnandar, Pengembangan Model Pendayagunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk Pendidikan di Daerah Terpencil, Tertinggal, dan Terdepan, Pustekkom, Kemdikbud, 2012.

wahhh maantaap ๐คฃ๐คฃ
BalasHapusTerimakasih ilmunya
BalasHapus๐
BalasHapusMantap cekalii ๐
BalasHapusGood, semangat menulisnya ๐๐ผ
BalasHapusBaguss sekali
BalasHapus๐๐
BalasHapusCakepp
BalasHapusKeep spirit๐
BalasHapusBagus
BalasHapusKerenn
BalasHapusGood
BalasHapus